Menu

Mode Gelap

Opini

Ketika Narasi Mengalahkan Solusi: Pelajaran dari Polemik Pak Made di Torobulu

badge-check


					Ketika Narasi Mengalahkan Solusi: Pelajaran dari Polemik Pak Made di Torobulu Perbesar

Oleh : Afdhal

Presidium Forum Masyarakat Lingkar Tambang (FORMAT)

Di era media sosial hari ini, sebuah peristiwa dapat dengan cepat berubah menjadi polemik. Narasi berkembang begitu cepat, opini saling bertabrakan, dan setiap pihak berlomba meyakinkan publik bahwa merekalah yang berada di pihak yang benar.

Namun di tengah riuhnya perdebatan itu, sering kali kita lupa melihat siapa yang sebenarnya menanggung dampak dari semua pertarungan narasi tersebut.

Polemik yang terjadi di Desa Torobulu terkait aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) memberikan pelajaran penting bagi kita semua.

Bukan semata soal perusahaan, bukan pula hanya soal aktivis atau kelompok yang berbeda pandangan. Lebih dari itu, persoalan ini mengajarkan bahwa ketika narasi mulai mengalahkan solusi, masyarakatlah yang akhirnya menjadi korban.

Saya teringat pada sosok Pak Made.

Bagi sebagian orang, nama Pak Made mungkin hanya bagian kecil dari sebuah polemik yang sedang berkembang. Namun bagi saya, Pak Made adalah simbol bagaimana masyarakat kecil sering kali berada di posisi yang paling rentan ketika konflik kepentingan mulai membesar.

Rumah yang ditempatinya dibangun bukan karena kepentingan politik, bukan karena kepentingan bisnis, melainkan karena rasa kemanusiaan. Melalui program bedah rumah yang didukung para donatur dan berbagai pihak, rumah itu hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Sayangnya, rumah yang semula menjadi simbol harapan itu kemudian ikut terseret ke dalam pusaran perdebatan publik.

Berbagai tudingan, bantahan, klarifikasi, dan argumentasi berkembang di ruang publik. Masing-masing pihak membawa data dan keyakinannya sendiri. Sebagian menyampaikan kekhawatiran terhadap lingkungan hidup.

Sebagian lainnya menyampaikan fakta yang berbeda berdasarkan hasil pemantauan dan mediasi yang dilakukan.

Sebagai masyarakat yang hidup dalam negara demokrasi, saya meyakini bahwa kritik terhadap perusahaan merupakan sesuatu yang penting. Tidak ada perusahaan yang boleh kebal dari pengawasan publik. Aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan hidup memang harus diawasi secara ketat karena menyangkut masa depan masyarakat dan generasi yang akan datang.

Namun saya juga percaya bahwa setiap kritik harus dibangun di atas fakta yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika ruang publik dipenuhi asumsi, prasangka, dan saling serang, maka substansi persoalan sering kali hilang. Yang muncul bukan lagi upaya mencari jalan keluar, melainkan perlombaan membangun persepsi.

Pada titik inilah narasi mulai mengalahkan solusi.

Energi yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan masalah habis untuk mempertahankan posisi masing-masing. Dialog berubah menjadi konflik. Klarifikasi dianggap pembelaan. Kritik dianggap serangan. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya menjadi fokus utama justru terabaikan.

Menurut saya, persoalan Torobulu seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan refleksi.

Aktivis perlu terus mengawal kepentingan masyarakat dan lingkungan hidup, tetapi tetap mengedepankan objektivitas.

Perusahaan harus membuka diri terhadap kritik dan memastikan seluruh aktivitasnya berjalan sesuai aturan. Pemerintah dan aparat penegak hukum harus hadir sebagai penengah yang menjamin kebenaran dapat ditemukan secara adil.

Yang paling penting, masyarakat tidak boleh dijadikan alat dalam pertarungan narasi.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan konflik yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan kepastian hidup, lingkungan yang aman, pekerjaan yang layak, serta hubungan sosial yang harmonis.

Saya percaya bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan jika semua pihak bersedia duduk bersama dengan kepala dingin. Kebenaran tidak lahir dari suara yang paling keras, melainkan dari fakta yang diuji secara jujur dan terbuka.

Kisah Pak Made seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap polemik selalu ada manusia yang merasakan dampaknya secara nyata. Ada keluarga yang ingin hidup tenang. Ada masyarakat yang berharap persoalannya selesai. Ada harapan-harapan kecil yang sering kali tenggelam oleh kebisingan perdebatan.

Karena itu, sebelum kita sibuk memenangkan narasi, mungkin sudah saatnya kita mulai memenangkan solusi.

Sebab masyarakat tidak membutuhkan pemenang dalam konflik ini.

Masyarakat hanya membutuhkan penyelesaian.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hardiknas, Rasmin Jaya : Alokasi Anggaran Harus Tepat Sasaran 

2 Mei 2025 - 22:27 WITA

Trending di Opini