Menu

Mode Gelap

Opini

PUP di Persimpangan: Harapan atau Ancaman Baru?

badge-check


					PUP di Persimpangan: Harapan atau Ancaman Baru? Perbesar

Penulis : Afdhal

Presidium Masyarakat Lingkar Tambang (FORMAT)

KONSEL : Di tanah Konawe Selatan yang kaya akan sumber daya alam, masyarakat sesungguhnya tidak pernah menolak investasi. Mereka memahami bahwa tambang dapat membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan ekonomi daerah, dan menghadirkan pembangunan.

Namun masyarakat juga memiliki hak untuk hidup dengan aman, menikmati lingkungan yang sehat, dan membesarkan anak-anak mereka tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan turun atau alat berat mulai bekerja.

Karena itu, ketika kabar akuisisi PT Pandu Urane Perkasa (PUP) oleh Frans Kalalo Direktur PT. Wijaya Inti Nusantara mencuat ke publik, muncul harapan sekaligus kekhawatiran. Harapan agar perusahaan ini mampu membawa perubahan yang lebih baik.

Namun di saat yang sama, masyarakat tidak bisa melupakan berbagai polemik yang selama ini mengiringi aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN).

Kekhawatiran itu bukan lahir dari kebencian terhadap investasi. Kekhawatiran itu lahir dari berbagai pemberitaan yang telah dibaca publik, dari suara-suara warga yang selama ini berusaha didengar, dan dari fakta bahwa sejumlah persoalan lingkungan serta sosial telah menjadi konsumsi publik.

Di kutip dari Media DetikSulsel dalam berita berjudul “Rumah Warga di Konsel Terancam Roboh Imbas Tambang Nikel Dekat Permukiman” memberitakan bagaimana aktivitas tambang disebut berada sangat dekat dengan rumah warga.

Dalam laporan tersebut disebutkan adanya rumah warga yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari area galian tambang.

Baca:

https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8489951/rumah-warga-di-konsel-terancam-roboh-imbas-tambang-nikel-dekat-permukiman

Bagi sebagian orang, angka 10 meter mungkin hanya sekadar ukuran. Namun bagi warga yang setiap hari tinggal di sana, 10 meter adalah jarak antara rasa aman dan rasa cemas.

Jarak antara tidur nyenyak dan ketakutan akan kemungkinan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Kekhawatiran itu semakin terasa ketika DetikSulsel kembali menerbitkan berita berjudul “Jarak Tambang dari Permukiman di Konsel Sisa 10 Meter, Warga Mulai Mengungsi”.

Baca:

https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8490183/jarak-tambang-dari-permukiman-di-konsel-sisa-10-meter-warga-mulai-mengungsi.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sebagian warga mulai meninggalkan rumahnya karena khawatir terhadap kondisi di sekitar tempat tinggal mereka.

Tidak ada warga yang ingin meninggalkan rumah yang dibangun dengan keringat bertahun-tahun. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anak-anaknya tumbuh dalam ketakutan.

Namun ketika rasa aman mulai hilang, masyarakat sering kali tidak memiliki banyak pilihan.

Persoalan lain yang menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat juga muncul dalam pemberitaan DetikSulsel berjudul

“Tambang Nikel Dekat Permukiman di Konsel Bikin Sumber Mata Air Mengering”.

Baca:

https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8490128/tambang-nikel-dekat-permukiman-di-konsel-bikin-sumber-mata-air-mengering

Air bukan sekadar kebutuhan. Air adalah kehidupan. Ketika masyarakat mulai khawatir terhadap keberlangsungan sumber air mereka, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, tetapi masa depan keluarga dan generasi yang akan datang.

Polemik tersebut kemudian mendapat perhatian lebih luas. DetikSulsel kembali mengangkat persoalan itu melalui berita

“Horor Galian Tambang Nikel Dekat Permukiman Ancam Nyawa Warga Konsel”.

Baca:

https://www.detik.com/sulsel/hukum-dan-kriminal/d-8490532/horor-galian-tambang-nikel-dekat-permukiman-ancam-nyawa-warga-konsel

Judul tersebut mencerminkan betapa besar keresahan yang berkembang di tengah masyarakat. Ketika kata “ancam nyawa” mulai muncul dalam ruang publik, maka persoalan itu tidak lagi hanya berbicara soal investasi, tetapi menyangkut keselamatan manusia.

Situasi tersebut bahkan menarik perhatian aparat penegak hukum. Sarabanews dalam berita berjudul “Buntut Longsor dan Rumah Retak, Bareskrim Polri Segel Tambang Nikel PT WIN di Pemukiman Warga Konawe Selatan” melaporkan adanya penghentian sementara aktivitas pada lokasi yang menjadi sorotan.

Baca:

Buntut Longsor dan Rumah Retak, Bareskrim Polri Segel Tambang Nikel PT WIN di Pemukiman Warga Konawe Selatan

Terlepas dari berbagai perdebatan yang muncul setelahnya, satu hal yang pasti adalah bahwa persoalan tersebut telah menjadi perhatian publik secara luas.

Kini masyarakat kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama.

Jika berbagai persoalan tersebut pernah menjadi sorotan di PT WIN, apakah ada jaminan bahwa hal yang sama tidak akan terjadi di PT Pandu Urane Perkasa?

Apakah masyarakat nantinya akan kembali melihat kubangan-kubangan besar yang meninggalkan kekhawatiran?

Apakah masyarakat akan kembali mendengar cerita tentang rumah yang retak dan warga yang harus mengungsi?

Apakah sumber air masyarakat akan tetap terlindungi?

Apakah tenaga kerja lokal benar-benar akan mendapatkan ruang dan kesempatan yang adil?

Apakah masyarakat lingkar tambang akan menjadi mitra pembangunan atau sekadar penonton di tanahnya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar. Karena masyarakat belajar dari pengalaman.

Masyarakat belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan.

Konawe Selatan tidak membutuhkan investasi yang hanya menghasilkan angka produksi. Konawe Selatan membutuhkan investasi yang menghasilkan rasa aman.

Masyarakat tidak membutuhkan perusahaan yang hanya kuat dalam laporan. Masyarakat membutuhkan perusahaan yang kuat dalam tanggung jawab.

Masyarakat tidak membutuhkan janji. Masyarakat membutuhkan bukti.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa juta ton ore yang berhasil dikeluarkan dari perut bumi. Yang akan dikenang adalah apakah perusahaan tersebut meninggalkan kesejahteraan atau meninggalkan masalah.

Apakah perusahaan tersebut menjaga lingkungan atau justru meninggalkan luka.

Apakah perusahaan tersebut menjadi sahabat masyarakat atau menjadi sumber konflik yang berkepanjangan.

Akuisisi PT PUP harus menjadi titik awal perubahan. Jangan sampai masyarakat kembali membaca berita-berita yang sama dengan nama perusahaan yang berbeda.

Konawe Selatan telah cukup belajar dari berbagai polemik yang terjadi. Kini saatnya membuktikan bahwa investasi dan keselamatan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Karena tambang boleh mengambil hasil bumi, tetapi jangan sampai mengambil ketenangan hidup masyarakat yang telah lebih dahulu menjaga tanah ini sejak generasi ke generasi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Narasi Mengalahkan Solusi: Pelajaran dari Polemik Pak Made di Torobulu

6 Juni 2026 - 14:51 WITA

Hardiknas, Rasmin Jaya : Alokasi Anggaran Harus Tepat Sasaran 

2 Mei 2025 - 22:27 WITA

Trending di Opini